Belajar Menghitung Kehadiran

Hei, kamu. Iya, kamu yang duduk di ujung gerbong, membiarkan kereta menyeret tubuhmu ke arah yang entah. Di luar jendela, lanskap beringsut seperti pikiranmu: bergerak, tapi tak benar-benar pergi.

Tatapanmu tertambat pada kaca, seolah di balik pantulannya ada sesuatu yang sedang kamu cari. Kerut di dahi itu tak datang tiba-tiba; ia menumpuk, hari demi hari, seperti debu yang dibiarkan menetap. Barangkali lelah tak selalu perlu alasan. Ia cukup hadir, lalu menetap di tubuh, membuat pasrah terasa lebih ringan daripada berharap.

Kamu terbiasa berjalan berdampingan dengan bayanganmu sendiri. Bayangan yang awalnya sekadar mengikuti, kini perlahan mendahului langkahmu. Di sanalah kamu menyimpan hal-hal yang enggan kamu sentuh. Pertanyaan yang tak ingin dijawab, rasa yang terlalu ribut untuk dihadapi. Kepalamu menjadi ruang gema, tempat suara-suara berputar tanpa tujuan, saling bertabrakan, lalu kembali ke titik semula.

Kadang dunia tampak seperti pihak yang selalu keliru. Ia tak pernah cukup lembut pada idealisme yang kamu rawat seperti benda rapuh. Kamu ingin segalanya utuh dan lurus, sementara hidup gemar memberi retakan dan belokan. Maka kamu bertahan, menggenggam erat prinsipmu, meski sesekali jari-jarimu sendiri terasa kebas.

Ada kalimat yang sering kamu ucapkan, mungkin hanya pada diri sendiri: inilah aku. Kalimat yang terdengar jujur, tapi diam-diam menutup pintu. Seolah dengan menyebutnya, segalanya tak perlu lagi digeser atau ditimbang ulang. Padahal waktu tak pernah menunggu siapa pun untuk siap berubah.

Dalam pertemanan, kamu kerap memilih jarak. Kamu menyebutnya kewaspadaan, mungkin juga perlindungan. Kamu meyakinkan diri bahwa kamu tak benar-benar punya siapa-siapa. Padahal ada kehadiran yang berjalan pelan, nyaris tak terdengar. Tangan-tangan yang tak memaksa untuk digenggam. Tapi kamu terlalu sibuk menghitung sepi, sampai lupa menoleh.

Lalu suatu hari, tanpa aba-aba, hidup memberimu jeda. Hari wisuda.

Hari itu tak meledak dalam bahagia. Ia datang sebagai sunyi yang lapang. Seperti napas panjang setelah berenang terlalu lama. Ada lega, tapi juga sesuatu yang lain—rasa asing yang menyerupai cemas, menyerupai sesal.

Bunga-bunga berdatangan, berlebihan rasanya. Terlalu ramai untuk seseorang yang merasa tak banyak meninggalkan jejak. Orang-orang yang kamu kira hanya persinggahan ternyata masih menyimpan namamu. Mereka datang membawa ingatan, dan tiba-tiba keyakinan lamamu goyah: barangkali selama ini kamu tak sepenuhnya tak terlihat.

Mungkin kamu hanya terlalu keras menilai hidupmu sendiri. Terlalu cepat menutup buku sebelum membacanya sampai tuntas.

Nyatanya, kamu hadir di pikiran orang lain lebih lama dari yang kamu duga. Mengatakan bahwa kamu tak punya teman, barangkali bukan sepenuhnya salah, hanya belum selesai.

Tidak semua orang ditakdirkan tinggal lama. Tidak semua layak disebut sahabat. Tapi perhatian, betapapun singkat, tetaplah pernah memilihmu. Dan bukankah itu sudah berarti sesuatu?

Hidup, pada akhirnya, mungkin bukan tentang berapa banyak orang yang menetap. Melainkan tentang bekas yang tertinggal, cukup dalam untuk diingat, meski samar.

Kamu tak perlu mencari sosok yang mengerti segalanya. Barangkali satu atau dua orang yang berani melihatmu tanpa ilusi sudah lebih dari cukup. Mereka yang tahu retakmu, dan tak buru-buru menambalnya.

Dan mereka yang hanya singgah? Mereka pun bagian dari perjalanan. Ada yang datang membawa hangat, ada yang menyisakan perih. Tapi bukankah rasa, apa pun bentuknya adalah tanda bahwa kamu pernah hidup, pernah bersentuhan?

Bertahun-tahun kamu hidup dengan pertanyaan tentang kelayakan. Malam-malam panjang diisi dugaan bahwa kamu selalu kurang, selalu tertinggal. Namun hari itu, kamu berdiri di tengah kehadiran—tak sempurna, tak utuh, tapi nyata.

Mungkin sudah waktunya kamu berhenti mengejar jawaban. Dan mulai mendengarkan apa yang diam-diam sudah ada.

Sebab jika kamu mau menoleh sedikit saja, kamu akan tahu: sepi itu tak pernah benar-benar sendirian.