Bagaimana Rasanya Menjadi

Ada perpustakaan yang tidak pernah benar-benar tutup.

Bukan karena tidak ada kuncinya. Tapi karena orang yang memegang kunci itu tidak pernah merasa bahwa tempat ini miliknya untuk ditutup. Maka setiap pagi pintu itu dibuka dari dalam, oleh tangan yang sama, dengan cara yang sama, tanpa ada yang pernah menyaksikan ritualnya.

Ia hafal segalanya.

Hafal langkah kaki pengunjung tetap sebelum mereka sampai di depan pintu. Hafal siapa yang datang ketika sedang patah hati, siapa yang datang ketika butuh pembenaran, dan siapa yang hanya datang karena di luar sedang hujan dan tidak ada tempat lain yang mau menerima. Semua disimpan tanpa diminta, tanpa dicatat, tanpa pernah ditagih kembali.

Hanya buku-buku yang tahu betapa beratnya itu.

Mereka melihat semuanya dari rak masing-masing. Melihat bagaimana ia tersenyum kepada setiap pengunjung yang masuk, mengantar mereka ke rak yang tepat, duduk menemani mereka membaca tanpa pernah menyela. Buku-buku itu menyaksikan bagaimana ia mengenal semua orang di sana, nama mereka, kebiasaan mereka, bab mana dalam hidup mereka yang sedang dibaca ulang. Tapi tidak satu pun dari mereka yang pernah balik bertanya tentang bab mana dalam hidupnya yang sedang ia coba tamatkan.

Maka iapun belajar menjadi tak terlihat dengan cara yang berbeda.

Bukan dengan bersembunyi, melainkan dengan menjadi terlalu mudah ditemukan. Selalu ada di tempat yang sama, selalu siap dengan jawaban yang tepat, selalu punya ruang untuk satu cerita lagi meski raknya sendiri sudah penuh. Orang-orang merasa nyaman bukan karena mereka mengenalnya, tapi karena ia tidak pernah merepotkan mereka untuk mengenal.

Dan buku-buku itu menyaksikan semuanya dalam diam.

Mereka melihat malam-malam ketika perpustakaan sudah kosong dan lampu sudah dipadamkan satu per satu. Ketika ia akhirnya berjalan menyusuri rak-raknya sendiri, bukan untuk merapikan, hanya untuk berjalan. Tangannya menyentuh punggung buku yang sudah lama tidak dipinjam siapapun, membaca judul-judulnya dengan pelan, seperti menyapa seseorang yang sudah lama tidak ditanya kabarnya.

Di sudut paling ujung ada satu rak kecil yang berdebu.

Bukan karena tidak ada isinya. Tapi karena tidak pernah ada pengunjung yang berjalan cukup jauh ke dalam untuk menemukannya. Di sanalah ia meletakkan semua yang tidak pernah ada yang meminjam, cerita yang tidak pernah selesai diceritakan, pertanyaan yang tidak pernah sempat diajukan, dan halaman-halaman yang lusuh bukan karena terlalu sering dibaca, melainkan karena terlalu lama menunggu untuk dibaca sama sekali.

Buku-buku di rak itu sudah hafal tangannya.

Mereka tahu bahwa ia akan datang lagi malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Akan berdiri sebentar di depan rak itu, akan menarik satu buku, membuka halamannya, lalu menutupnya kembali sebelum sempat membaca baris pertama.

Karena ada hal-hal yang lebih mudah disimpan daripada dibaca sendiri.