Cuaca

Kata orang, cuaca itu cermin suasana hati. Tapi aku pikir lebih dari itu. Cuaca itu juga cermin cara kita bertahan.

Ketika panas menyengat, yang pertama datang adalah keluhan. Udara lengket di leher, pikiran mendidih sebelum sempat matang, langkah kaki jadi lebih berat dari biasanya. Kita lupa bahwa di balik terik yang sama, tanah sedang menyerap, akar sedang bekerja, dan baju basah kemarin akhirnya kering juga. Panas itu tidak hanya membakar. Ia juga menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh mendung.

Hujan punya watak yang lebih rumit. Ia datang dengan berbagai versi dirinya tergantung kapan ia memilih tiba. Kalau setelah hari yang terlalu panjang dan menekan, turunnya hujan terasa seperti izin untuk berhenti sejenak. Bau tanah basah itu, petrichor, seperti semesta sedang bilang iya, sudah cukup untuk hari ini. Tapi kalau hujan datang di tengah perjalanan, saat kita setengah basah dan tidak membawa payung, ia berubah jadi musuh kecil yang menjengkelkan. Kita melangkah dengan hati-hati, menghindari genangan, menjaga agar pakaian tidak menceritakan apa yang baru saja terjadi.

Manusia tidak jauh berbeda dari cuaca itu.

Kita juga datang dalam berbagai versi tergantung kapan orang menemui kita. Ada sedih dan marah yang sering datang berdua, karena keduanya tumbuh dari sumber yang sama yaitu kehilangan. Ketika seseorang pergi untuk selamanya, ada kesedihan yang jelas dan ada kemarahan yang diam-diam, yang menyalahkan diri sendiri karena tidak sempat duduk lebih lama di sebelah mereka. Ketika sesuatu yang kita inginkan terlepas dari tangan, kita berduka atas hasilnya tapi juga marah karena merasa belum memberikan seluruh diri. Dua perasaan itu tidak bergiliran. Mereka datang bersamaan, saling menumpuk, sampai akhirnya tubuh yang memutuskan untuk berhenti. Bukan karena sudah selesai, tapi karena sudah lelah. Dan dalam jeda itulah, ketika air mata sudah tidak keluar lagi dan suara sudah tidak ada yang bisa dikeluarkan, kita mulai menyerap apa yang sebenarnya sudah terjadi. Realita masuk perlahan, seperti cahaya yang merayap dari bawah pintu.

Kebahagiaan pun punya sisi yang tidak selalu diceritakan. Ia datang seperti lapang, seperti bunga-bunga yang tiba-tiba tumbuh di jalan yang kemarin kering. Tapi semakin dalam kita memegang sesuatu yang indah, semakin terasa beratnya. Tanggung jawab baru muncul, ekspektasi tumbuh sendiri, dan rasa takut kehilangan apa yang baru saja kita dapatkan mulai mengintip dari sudut. Yang tadinya menyejukkan, perlahan menuntut. Bukan berarti kebahagiaan itu palsu. Hanya saja ia tidak pernah datang sendiri.

Mungkin itulah yang sesungguhnya ingin diajarkan oleh cuaca: bahwa tidak ada satu pun kondisi yang layak dijadikan tempat menetap selamanya. Bukan karena hidup itu tidak adil, tapi karena memang begitulah cara cuaca bekerja. Ia bergerak. Ia berubah. Dan perubahan itu bukan hukuman.

Itu hanya alam yang sedang berlangsung, dan kita, bagian kecil dari semua itu, sedang belajar untuk tidak terlalu melawan.